
Beberapa hari yang lalu, siswa-siswi SMA di seluruh Indonesia bersuka cita dengan hasil ujian nasional yang telah mereka tempuh. Berbagai macam luapan emosi telah mereka lakukan, mulai dari sujud syukur, coret-coret baju, bakti sosial, konvoi di jalan, dan lain sebagainya. Baik yang lulus maupun yang tidak lulus tetap melakukan ritual tahunan ini. Namun ada beberapa hal yang sedikit mereka lupakan, yakni mau kemana setelah lulus sma? bekerja atau melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Beberapa dari pelajar mungkin telah diterima di beberapa PTN maupun PTS lewat jalur khusus yang disediakan PT (Perguruan Tinggi) yang bersangkutan, namun masih banyak yang masih bingung dalam menentukan masa depannya terutama dari kalangan ekonomi menengah kebawah. Untuk melanjutkan ke Perguruan Tingi tentunya tidak semudah yang dibayangkan, mengingat biaya yang cukup besar untuk bea masuknya, kalaupun lewat jalur orang miskin toh juga masih banyak saingan dan harus pamer kemiskinan mulai dari tingkat RT hingga walikota. Untuk bekerja, toh mereka mau bekerja apa? tentunya tidak semudah membalikkan tangan.Perguruan Tinggi Negeri tentunya menjadi sasaran empuk para pelajar sma yang ingin melanjutkan study nya, UGM, UI, ITB, ITS, UNAIR, UNPAD, IPB tentunya menjadi sasaran empuk para calon mahasiswa ini. Namun sekali lagi mereka harus berbenturan dengan banyak hal, terutama persaingan yang cukup ketat dan juga lagi-lagi masalah biaya yang tidak murah lagi.
Namun ada hal lain yang bisa kita perhatikan, sistem ujian masuk peruguruan tinggi non SPMB atau SNMPTN. Betapa mahal dan susahnya masuk jurusan yang bagus-bagus di PTN Favorit. Jika di Unair ada PMDK Reguler yang mahal (baik formulir pendaftaran hingga spp maupun sumbangannya), Kalau di UGM ada namanya UM dan PBS (sama mahalnya buat masuk sebab kena sumbangan dulu dengan aneka harga). Sedangkan UI namanya simak (oia, kata temen penulis dari UI, sekarang SPP UI 7,5 juta lho untuk semua jalur. Wow!!!). ITS namanya jalur kemitraan, dimana ITS bekerja sama dengan beberapa perusahaan BUMNdan Swasta bukan untuk menyaring lulusan ITS namun untuk menyaring anak-anak yang orang tuanya bekerja di Perusahaan tersbut untuk masuk ITS dengan aneka harga. Dan masih banyak jalur duit lainya kayak di ITB, UNPAD, dan lainnya.
Kayaknya semua jalur di atas erat banget hubungannya dengan duit yang tidak sedikit. So, kuliah jangan males-males. Kasihan orang tua yang sudah keluar banyak duit.
Nah dari semua jalur duit itu, tentunya tidak sedikit bangku yang disiapkan buat mereka. Coba bandingkan dengan temen-temen yang masuk via tes prestasi/akademik dan spmb. Kayaknya mereka justru jadi kaum minoritas di jurusan yang banyak peminatnya. Betapa susahnya ketika mereka harus bersaing lewat jalur prestasi akademik dan spmb, selain jumlah bangku yang disiapkan tidak banyak, saingan mereka juga banyak dan tidak sedikit siswa yang bodoh karena mereka sudah mempersiapkan diri sematang mungkin untuk tes spmb.
Paman, Ortu dan Orang-orang jaman dulu yang pernah kuliah pun cuma bisa geleng-geleng dan tercengang ketika tahu kuliah di negeri sekarang mahalnya amit-amit and bikin sembelit. Hhii
Padahal jaman dulu sekolah negeri itu murah lho, negara masih banyak terlibat. Sekarang negara sudah cuek dan menyerahkan semua kepada pasar. Pendidikan dan Kesehatan adalah faktor penting majunya sebuah bangsa, gimana mau mewujudkan bangsa yang sehat dan terdidik sedangkan akses mereka kesana seakan dipersulit dan tidak diperbolehkan!!!
Beberapa penjelasan di atas seakan membuka mata kita betapa sulitnya memasuki PTN Pilihan, dimana seluruh PTN itu berada di Jawa. Dimana sejak berubah menjadi BHMN, PTN itu mulai mempunyai berbagai macam jurus jitu membuka aneka jalur dengan aneka harga. Otonomisasi kampus ternyata tidak hanya maslah kurikulum untuk meningkatkan kualitas pendidikan, namun juga otonomi dalam pengolahan keuangan. Sebenernya ini wujud dari kemandirian atau ketidakmampuan negara untuk mengolah dunia pendidikan?
Maka tak heran jika semakin jarang kita temui si miskin dalam jurusan macam kedokteran, kedokteran gigi, teknik industri, informatika, sipil, manajemen, hubungan internasional, psikologi, komunikasi, hukum, dan lainnya. Perguruan Tinggi Negeri Pilihan seakan anti dengan orang miskin. Orang Miskin seakan dilarang memperoleh pendidikan tinggi, padahal pendidikan telah menjadi hak dan kewajiban bagi seluruh rakyat. Jika kita mau jujur dan apa adanya tentu tidak sedikit jumlah kaum miskin di Indonesia, tapi kenapa mereka justru menjadi kaum minoritas di pendidikan tinggi? Susahnya mengakses jalur pendidikan seakan mengingatkan kita kembali pada zaman penjajahan, dimana pendidikan hanya bisa dinikmati oleh kaum elite.
Kenapa kok pendidikan malah jadi barang langka? alangkah jahatnya negeri ini ketika mengkomersialisasikan semua hal-hal yang penting bagi rakyat terutama pendidikan.
Tak heran jikalau pendidikan tinggi ini hanya dinikmati oleh kaum elite dan sedikit kaum miskin, mahasiswa pada akhirnya tidak lagi menjadi penyambung lidah rakyat. Dimana menjadi mahasiswa hanya untuk meningkatkan status sosial dan mencari pekerjaan agar memperoleh penghasilan yang lebih baik. Mahasiswa pada akhirnya terjebak ke dalam jurang kapitalisme yang semakin dalam, mahasiswa identik dengan hiburan malam, dunia belanja, free sex, drugs dan senang-senang. Mahasiswa yang diharapkan menjadi intelektual dan ilmuwan muda dalam pembangunan negeri ini, seakan telah melupakan tugasnya sebagai orang yang juga bertanggung jawab dalam kemajuan negeri ini.